Memaparkan catatan dengan label Apresiasi Sastera. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Apresiasi Sastera. Papar semua catatan

Jumaat, Oktober 04, 2024

Merenungi Belantara Kehidupan di Hutan Ayah

oleh Dr. Panji Pratama, SIKK

Hutan Ayah
HASYUDA ABADI merupakan salah seorang penyair terkemuka di Sabah, Malaysia yang mana karya-karyanya telah membuat warna dan rasa tersendiri dalam dunia persajakan di Malaysia. Penyair yang dilahirkan di Lumadan, Beufort, Sabah, Malaysia ini mampu melahirkan perpaduan puisi yang sangat pas untuk dinikmati setiap pembacanya. Unsur perbandingan, istilah-istilah teknis, ungkapan religi, dan simbolik di dalam puisinya berhasil membangkitkan inovasi diksi dalam kelindan kata-kata, kebenaran realitas sosial yang dikemas secara apik dalam buku-buku kumpulan puisinya.

Pengarang buku-buku kumpulan puisi berjudul ‘Balada Paduka Mat Salleh’ (DBP, 1989), ‘Akar Cahaya’ (IPS, 1997), ‘Datang Kembali’ (IPS, 1997), 'Menginai Badai' (DBP, 2004), 'Sirna Sirna' (DBP, 2006) 'Kembali di Lahad Rahsia' (Iris, 2008), 'Suara yang Terbuka' (ITBM, 2014), dan ‘Kelahiran Sekuntum Cermin’ (Iris, 2018) ini, ternyata pernah bekerja sebagai seorang yang bergelut di bidang kaset rekaman radio. Hal itulah yang membuatnya juga berhasil menerbitkan 15 buah skrip drama pentas/radio. Total karya hingga saat ini, Hasyuda Abadi atau Haji Sukor bin Haji Usin, telah menghasilkan lebih 1,000 buah puisi yang dimuat di berbagai media, 45 buah cerpen, dan 300-an buah esei sastra.

Di usianya yang ke-63 tahun, ia berhasil menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul “Hutan Ayah” yang mendapat atensi bagi pemerhati sastra di Malaysia dan Indonesia. Hal ini tentu saja terbukti dalam puisinya yang menjadi judul buku kumpulan puisi tersebut. Dalam puisi “Hutan Ayah” terkhusus, Hasyuda Abadi berhasil untuk mengupayakan jembatan antara kritikus sastra profesional dan remaja awam yang baru belajar ‘membaca’, untuk merenungi kembali tentang tema kemanusiaan di era AI ini.

kuikuti susur galur hutan
hutan kemanusiaan
menjabar cabaran
karena geloranya lebih mengajar
menjadi insan.

ayah mencintai dirinya
sebagaimana Tuhan lebih berhak
memilikinya.

(Hutan Ayah, 2023: 14)

Dalam kutipan puisi di atas terdapat unsur kritik sosial di mana penggambaran kondisi sosial di zaman modern yang sudah jauh dari ajaran keilahian. Manusia saat ini sudah lupa alasan keeksistensian dunia untuk berbakti dan mengabdikan diri kepada Allah SWT dengan dilandasi dengan kesadaran dan keikhlasan. Berbakti kepada Allah tersebut dapat berupa berbuat sesuatu yang bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun sesama manusia. Hal itu dikarenakan manusia-manusia sekarang sudah kehilangan sosok ‘ayah’ yang bijak dan berlaku sebagai penunjuk jalan yang benar.

belajarlah kata ayah
berlayar ke hutan gelombang
ayah ke hutan cintanya
bersama pisau pencarian
dewasa di hutan pohonan
memikul harapan buat generasi
dibinanya.

(Hutan Ayah, 2023: 14)

Pada bait di atas dibumbui dengan unsur pengimajian dan alegori, yang sejatinya seringkali disampaikan seorang ayah atau guru di majelis-majelis ilmu dua dekade lalu. Orang tua dulu seringkali berpesan kepada anak-anaknya tentang pentingnya menjalani kehidupan yang pelik dengan sabar dan penuh tanggung jawab. Seumpama sedang berlayar ke hutan gelombang sehingga menjadi dewasa di hutan pohonan.

Di lain sisi, petuah-petuah bijak yang idealnya selalu disampaikan seorang ayah kepada anaknya diseimbangkan oleh sentuhan kasih sayang seorang ibu. Ibaratnya, jauh sebelum ilmu parenting dikoar-koarkan sosial media, keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak adalah sekolah terbaik untuk menciptakan seorang manusia sejati.

Hal ini tampak pada puisi selanjutnya yang sengaja dipilih penyair diletakan berdampingan dengan puisi “Hutan Ayah”, yaitu puisi “Bonda”. Pada puisi “Bonda” ditunjukkan bahwa segala kemelekatan terhadap materi keduniawian akan menciptakan manusia-manusia yang hampa, karena hatinya telah dibutakan oleh sesuatu yang maya. Untuk itu, sosok Ibu seringkali “menyentuh hati” anak-anaknya dengan cinta agar sadar bahwa semua yang ada di dunia adalah sementara.

tak mampu memberi air mata
karena tak menjawab tanya
sejak menyambutku
di rahang cinta
sejak menyerahkanku
ke rahan duniawi.

(Hutan Ayah, 2023: 15)

Maka dari itu, pada bait selanjutnya, Hasyuda Abadi menguatkan puisi “Bonda” dengan asosiasi-asosiasi definitif. Ia berupaya mengingatkan kembali pembaca terhadap ungkapan ibu sebagai madrasatul ula (madrasah pertama) karena darinyalah pendidikan anak pertama dan utama dimulai. Dari ibulah seorang anak belajar mengenai segala hal baru dalam hidupnya. Belajar berbicara, menimba ilmu dan adab yang mulia, serta menempa kepribadiannya demi mengarungi kehidupan yang luas bagai samudera.

dari jauh dulu
mengasuh adalah guru
mendidik adalah idola
mengajar adalah pandu.

(Hutan Ayah, 2023: 15)

Seperti halnya kehidupan di dunia, yang dibagi menjadi tiga fase, yaitu kelahiran, proses perjalanan hidup, dan kematian, begitu pula rancangan buku kumpulan puisi “Hutan Ayah”. Buku ini dibagi menjadi tiga fase, yaitu Hutan Ayah, Daun Ranting Penghabisan, dan Sosok Berbaju Fikir dan Paradigma Belantara. Dengan demikian, semakin dewasa seseorang, maka pemikiran juga akan mengalami evolusi, sehingga berkembang dan progresif.

Jadi sebelum manusia menelurkan pemikiran-pemikiran yang kritis dan progresif, hendaklah dibekali dulu dengan fondasi-fondasi kebijaksanaan yang cukup dan memanusiakan manusia.

bab demi bab dilalui
ada rahsia tersendiri tidak difahami.
bersua dan berpisah, pergi dan tiba,
kelahiran dan kepulangan,
dan diam.

telah tertulis peta kehidupan
menyediakan perjalanan
semakin ketara liku-likunya.
masa lampau tenggelam
hanya bayang
di permukaan seperti kolam.

di penghujung malam menantikan matahari
membuka pintu dan bab berikutnya.

(Hutan Ayah, 2023: 28)

Pada cuplikan puisi berjudul “Buku Kehidupan” tersebut, penulis mengungkap perjalanan hidup manusia yang berlapis-lapis. Lika-likunya ditegaskan dalam metafora “peta kehidupan”. Meski demikian, seumpama kata “peta” itu sendiri, tentunya tujuannya adalah memudahkan manusia untuk memilih opsi terbaik bagi perjalanan hidup yang tepat. Puisi ini sendiri diletakkan di tengah-tengah buku pada halaman 28 yang juga terdapat pada bagian Daun Ranting Penghabisan, yakni bagian kedua dari fase buku ini.

insan yang ada lemahnya
sampai masa seperti semua
dijemput dan ditanam
bumi menyimpan jasad
ruhnya pulang.

ia lemah dalam ketaksuban
berasa benar tak sedar kesasar
ketika dituangurukan
ia lemah dibalut kepalsuan
kesementaraan.

(Hutan Ayah, 2023: 57)

Dalam petikan puisi di fase ketiga berjudul "Tuan Guru" ini, Hasyuda Abadi sekali lagi mengisyaratkan bahwa manusia harus berhati-hati untuk tidak terjerumus pada hal yang sementara di dunia. Hal inilah kiranya yang termasuk ke dalam puisi-puisi di fase “Sosok Berbaju Fikir dan Paradigma Belantara” yang menjadi bagian pamungkas dari buku kumpulan puisi “Hutan Ayah” karya Hasyuda Abadi ini.

Pada akhirnya, semua yang ada di dunia ini hanyalah persepsi manusia. Manusia berhasil mencapai kesejatiannya ketika dia mampu berempati dan mengendalikan diri. Namun, manusia akan terjebak dalam jasad ketika manusia hidup dalam kepalsuan dan kesombongan dunia. Seperti ungkapan “Sawang Sinawang”, manusia saat ini hanya bisa membanding-bandingkan diri mereka dengan orang lain, padahal yang terlihat di layar ponsel belum tentu seindah dan senyata yang sebenarnya di dunia nyata.(***)



Sabtu, Jun 29, 2024

Selera Sastera




Salam semua. Puisi: ramai sangat mencintainya. Berfikir dan menuliskannya. Jika dihitung berdasarkan manusia di dunia tentu saja sangat sedikit namun puisi adalah dunia tertentu dan tersendiri.
Apakah anda berfikir setiap detik dan dalam ruang yang pelbagai masih boleh menekuninya. Mencerakin buah-buah fikir, emosi, ilmu, pengalaman dan seumpamanya menjadi bait-bait yang indah dan segar. Ya, memang ada. Setiap hari menjadi hari puisi, hari sastera.
Hari-hari sastera hidup sebenarnya. Seseorang kata tidak tahu apa benda sastera, sebenarnya dia telah pun memiliki pemikiran sastera secara diam-diam. Jika tidak, mana mungkin seseorang itu mampu berbahasa, beremosi, menilai kehidupan dari sudut seni, bahkan berpolitik.
Jangan risau andai gagal menemui seseorang yang memiliki selera sastera yang tinggi, kita bakal menemui ramai lagi yang 'buta' tetapi percayalah dia sebenarnya mampu memberikan nilai yang lain. Duitnya? Tidak semestinya.
Tidak salah untuk mencari (bukan mencuri) duit seseorang yang berkuasa (sebenarnya dia tidak ada apa-apa pun) kerana yang penting memahami bahawa sastera adalah kehidupan sehariannya.
Kita berhasrat bertemu yang meminjam kuasa Tuhan memberi maklum keberadaan sastera dalam diri rakyatnya. Memang tidaklah (dalam konteks layanan sewajarnya) kecuali yang benar-benar faham kehidupannya tanpa sastera kosong, ya kosong biarpun dirasakan sangat kaya, sangat berkuasa, sangat berpengaruh dan sebagainya. Pernah yang meminjam kuasa itu meminggirkan keindahan sastera memilih ada yang lebih penting - sastera tidak memberikan nilai yang segera demi memperkasa kuasa pinjamannya. Tidaklah mengapa, masih ada yang mencintainya, memilih puisi misalnya.
Tidaklah semestinya perlu tahu puisi, meminati cerita-cerita kreatif apatah lagi menulis novel. Peranan seseorang yang ‘tiada’ selera terhadap sastera tetap wujud. Sebelum wujud pemahaman ini kita perlu faham terlebih dahulu sastera ini apa sebenarnya? Sastera yang pasti bukan milik sekelompok masyarakat. Seperti golongan sasterawan, keberadaannya bukan semata-mata di dalam komunitinya. Mereka berada di tengah-tengah kita. Siapalah manusia sasterawan itu, meski diam dan tidak menjanjikan nilai ekonomi tetapi sesungguhnya kemampuannya tidak mampu dilakukan ramai orang.
Tuan, puan antaranya yang berwibawa.
HA

4 Februari 2024

Jumaat, Februari 02, 2024

APRESIASI SASTRA






NONGKRONG.CO – Ikatan Penulis Sabah (IPS) ingin dapat menjadi jembatan kesusastraan antarpenulis se-ASEAN. Hal ini disampaikan oleh Ketua Satu Ikatan Penulis Sabah (IPS), Awang Abdul Muizz bin Awang Marusin, pada Rabu (31/1) malam lalu.

Pernyataan ini terungkap setelah Ikatan Penulis Sabah (IPS) menggelar kegiatan temu penulis Malaysia-Indonesia. Kegiatan tersebut bertajuk “Malam Hari Tiga” dengan dihadiri oleh sejumlah pekarya dari Malaysia dan Indonesia.

“Malam ini, kita telah membuktikan bahwa pertemuan ini tidak hanya kegiatan diskusi biasa. Dengan kehadiran tamu penulis dari Indonesia, kita berharap IPS lebih dari sekadar komunitas, tetapi dapat menjadi jembatan pertemuan penulis se-ASEAN,” ujar Awang.

Menurut Awang, program Malam Hari Tiga telah berjalan secara berkesinambungan. Dalam kegiatannya, program ini selalu menghadirkan para sastrawan Malaysia yang komitmen untuk dibedah karyanya.

“Kegiatan tersebut mengambil lokasi Rumah Puisi Hasyuda Abadi, Kinabalu, Sabah, Malaysia. Lokasi tersebut menjadi bukti bahwa sastrawan takzim Malaysia concern terhadap program Malam Hari Tiga. Bahkan, sebagai tuan rumah,” tuturnya.

Hasyuda Abadi sendiri di Malaysia dikenal sebagai penyair yang telah menerima banyak penghargaan, seperti Anugerah Sastera Negeri Sabah ke-3, Anugerah Tokoh Penyair Islam sabah ke-11, dan Tokoh Seni Sastera Islam Sabah, ASIS.

Dalam program tersebut pula, terdapat beberapa penulis, penyair, dan pekarya aktif lain dari Malaysia, seperti Abd. Naddin Hj Shaiddin, Hasyuda Abadi, Jasni Yakub, Hj. Sahara Jais, Rosnah Radin, Roslan Sohasto, Fauziah Hj. Moksin, Jaliha Jaman, Fitriah, Masarah, dan Fauziyah Nurdin. Selain nama-nama tersebut, tampak pula seniman dan sastrawan Malaysia, seperti Dr. Mohd Puad Bebit dan Haji Gazali Suhaili.

“Untuk tamu dari Indonesia, kami mengundang Panji Pratama, Nasrullah Fauzi, dan Mudrika. Mereka memaparkan proses kreatif dalam menulis sastra, terutama puisi dan prosa,” ujar Abd. Naddin Hj Shaiddin, peserta acara yang juga dikenal sebagai Bung Nadin -wartawan senior di Sabah, Malaysia, kepada nongkrong.co.

Menurut Bung Naddin, kesediaan penulis Indonesia dalam Malam Hari Tiga dapat membawa khazanah tersendiri dalam dunia literasi dan sastra dua negara. Buku yang dibedah oleh penulis Indonesia tersebut menjadi sudut pandang unik dari perbedaan sastra negara serumpun.

“Seperti puisi yang dibacakan oleh Panji Pratama berjudul “Sabah Tempias Salju” tadi, menjadi bukti bahwa penulis Indonesia memandang Sabah sebagai rumah keduanya,” tambah Bung Naddin, yang juga dikenal sebagai pelopor Ikatan Penulis Sabah (IPS).

Kesuksesan Malam Hari Tiga tentu saja menjadi perhatian sastrawan senior, seperti Dr. Mohd. Puad Bebit. Pria yang dikenal aktif sebagai seniman dan dekan Fakultas Seni Kreatif Universitas Malaysia Sabah tersebut, ikut pula meramaikan acara dengan membacakan sebuah Sajak Jenaka atau di Malaysia dikenal sebagai Sajen yang berjudul “Bujang Senang tidak Semestinya Buaya”.

Selain itu, tampak pula sastrawan lain yang ikut menghangatkan acara dengan diskusi-diskusi hangat soal perkembangan sastra dua negara di era Artificial Intelegencies (AI).

Dalam diskusi tersebut, para peserta sepakat bahwa AI tidak akan dapat mengalahkan kreativitas dan ruh dari sastra ciptaan manusia.

“AI itu dapat menjadi kengerian, tetapi juga hikmah. Bagi penulis sastra, tentu saja kita lebih diunggulkan karena puisi dengan diberi ruh akan lebih menggetarkan daripada diciptakan oleh robot belaka. Maka keberadaan Ikatan Penulis Sabah (IPS) adalah bukti bahwa manusia lebih bernyawa daripada sekadar teknologi,” pungkas Haji Gazali Suhaili, peneliti Bahasa dari Malaysia. (*)

Oleh: Panji Pratama