Sabtu, November 18, 2017

Karya sastera sebagai sajian pengapresasian estetik


oleh Hasyuda Abadi
SASTERA adalah bahagian daripada warisan budaya kita yang bebas tersedia untuk semua orang, dan yang dapat memperkaya hidup kita dengan cara imaginasi dan makna. Membaca karya sastera dapat menghibur, dapat menimbulkan situasi batin atau kejiwaan yang indah, lucu, atau bahkan tragis. Karya sastera dapat menyampaikan kedalaman pemikiran pembaca sebagai bentuk kekayaan emosi, dan wawasan tentang karakter. Karya sastera dapat membawa pembaca melampaui pengalaman hidup sehari-hari yang terbatas. Karya sastera dapat menunjukkan kepada kita kehidupan orang lain di lain waktu. Karya sastera dapat memproses dan berdialog dengan intelektual dan emosional kita, serta memperdalam pemahaman pembaca tentang sejarah diri mereka, sejarah masyarakat dan sejarah kehidupan manusia itu sendiri. 

Melalui karya sastera yang berkualiti umpamanya novel-novel Sasterawan Negara A. Samad Said, novel-novel Sasterawan Negara Shahnon Ahmad, hingga sajak-sajak Sasterawan Negara Kemala akan menunjukkan kepada kita siapa diri kita dahulu dan sekaligus menemukan bahasa kita. Melalui sastera, generasi manusia dapat menyerap berbagai gagasan kehidupan melalui bahasa itu sendiri, kosa kata, tata bahasa, dan nada. Cara sasterawan menggunakan bahasa mewujudkan suasana budaya dari waktu mereka hidup dan merefleksikan kehidupan. Karya-karya sastera  dapat membawa kita, melalui imaginasi, kembali ke akar budaya kita, dan rasa kesinambungan dan perubahan yang kita dapatkan dari sastera untuk membantu kita memahami dunia yang sedang berlangsung.

Mengapa kita perlu mempelajari sastera kita, bukan semata-mata kerana di dalamnya ada kualiti bahasa kita. Mempelajari sastera juga bererti kita menelusuri ilmu pengetahuan dalam bentuk pemikiran yang telah direfleksikan oleh pengarang, kita dapat memperoleh wawasan dari idea-idea tentang dunia dan realiti yang digambarkan pengarang melalui bahasa. Bahkan kritik-kritik sosial, politik, undang-undang yang terdapat dalam sastera  dapat membantu kita membuat keputusan dalam transisi kehidupan sosial, politik dan hukum.

Mempelajari sastera bererti mempelajari bahasa, pemikiran, gagasan, budaya, dan tradisi. Lebih dari itu, mempelajari sastera akan memperkenalkan kita sebuah  dunia baharu pengalaman, membawa kita berkelana pada pemikiran dan gagasan dunia baharu yang berbeza sehingga membuat kita kaya secara intelektual. Mempelajari sastera bererti belajar untuk menafsirkan pesan pengarang dalam karyanya secara akademis. Secara formal, mempelajari sastera bererti melakukan “decoding text” melalui sejumlah teori sastera, dengan menggunakan pendekatan, mitologis sosiologis, psikologis, historis atau lainnya. Mempelajari sastera bererti melengkapi diri sebagai manusia yang tuntas.

Secara umum banyak orang yang mengemukakan pengertian sastera sebagai keindahan dalam berbahasa.  Pemahaman sastera sebagai produk manusia yang mengandung nilai keindahan sudah benar. Jika menelusuri erti sastera melalui sejarahnya, baik di Barat (baca: sejak Yunani purba) mahupun di Nusantara, nilai keindahan menjadi satu kriteria yang utama. Estetik ialah bidang dalam falsafah yang melihat, menikmati, menganalisis dan memperkatakan keindahan yang wujud pada alam dan karya seniman. (Hamidah Abdul Hamid, 1995)

Bagaimanapun, istilah dan pengertian keindahan tidak lagi mempunyai tempat yang terpenting dalam estetik kerana sifatnya.. Orang juga dapat menilai sebagai indah sebuah patung yang bentuknya setangkup, sebuah lagu yang nada-nadanya selaras atau sebuah sajak yang isinya menggugah perasaan. Untuk membezakannya dengan jenis-jenis lainnya seperti misalnya nilai moral, nilai ekonomis dan nilai pendidikan maka nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan disebut nilai estetik. Dalam hal ini keindahan “dianggap” seerti dengan nilai estetik pada umumnya. Apabila sesuatu benda disebut indah, sebutan itu bersifat penilaian subjektif.

Perkembangan estetik akhir-akhir ini melihat keindahan tidak hanya dipersamakan ertinya dengan nilai estetik seumumnya, melainkan juga dipakai untuk menyebut satu macam atau kelas nilai estetik. Dalam rangka ini jelaslah sifat estetik mempunyai ruang lingkup yang lebih luas daripada sifat indah kerana indah kini merupakan salah satu kategori dalam lingkungannya. Demikian pula nilai estetik tidak seluruhnya terdiri dari keindahan.

Nilai estetik selain terdiri dari keindahan sebagai nilai yang positif kini dianggap pula meliputi nilai yang negatif. Hal yang menunjukkan nilai negatif itu ialah kejelekan (ugliness). Kejelekan tidaklah bererti kosongnya atau kurangnya ciri-ciri yang membuat sesuatu benda disebut indah, melainkan menunjuk pada ciri-ciri yang ternyata bertentangan sepenuhnya dengan keindahan tersebut. Kerana itu, kini keindahan dan kejelekan sebagai nilai estetik yang positif dan yang negatif menjadi sasaran penelaahan dari estetik filsafati. Dan nilai estetik pada umumnya kini diertikan sebagai kemampuan dari sesuatu benda  untuk menimbulkan suatu pengalaman estetik.

Permasalahan yang muncul kemudian adalah bagaimana seorang pengamat menanggapi atau memahami sesuatu karya estetik atau karya sastera?  Seseorang tidak lagi hanya membahas sifat-sifat yang merupakan kualiti dari benda estetik, melainkan juga menelaah kualiti yang terjadi pada karya estetik tersebut, terutama usaha untuk menguraikan dan menjelaskan secara cermat, dan lengkap dari semua gejala psikologis yang berhubungan dengan keberadaan karya sastera tersebut (The Liang Gie 1976: 51).

Pemahaman estetik dalam sastera, bentuk pelaksanaannya merupakan apresiasi. Apresiasi sastera merupakan proses sadar yang dilakukan penghayat dalam menghadapi dan memahami karya sastera. Apresiasi tidak sama dengan penikmatan, mengapresiasi adalah proses untuk menafsirkan sebuah makna yang terkandung dalam karya sastera. Seorang pengamat yang sedang memahami karya sajian maka sebenarnya ia harus terlebih dahulu mengenal struktur organisasi atau dasar-dasar penyusunan dari karya yang sedang dihayati.

Apresiasi menuntut ketrampilan dan kepekaan estetik untuk memungkinkan seseorang mendapatkan pangalaman estetik dalam mengamati karya sastera. Pengalaman estetik bukanlah sesuatu yang mudah muncul atau mudah diperoleh, kerana untuk semua itu memerlukan pemusatan atau perhatian yang sungguh-sungguh. Seseorang tidak lagi hanya membahas sifat-sifat yang merupakan kualiti daripada benda estetik, melainkan juga menelaah kualiti abstrak daripada benda estetik, terutama usaha menguraikan dan menjelaskan secara cermat, dan lengkap dari semua gejala psikologis yang berhubungan dengan karya sastera (Liang Gie, 1976).

Seorang penghayat yang merasakan kepuasan setelah menghayati suatu karya, maka orang tersebut dapat dikatakan memperoleh kepuasan estetik. Kepuasan estetik merupakan kombinasi antara sikap subjektif dan kemampuan melakukan persepsi secara kompleks. Pada dasarnya pengalaman estetik merupakan hasil suatu interaksi antara karya sastera dengan penghayatnya. Interaksi tersebut tidak akan terjadi tanpa adanya suatu keadaan yang mendukung dan dalam keadaan penangkapan nilai-nilai estetik yang terkandung di dalam karya sastera; iaitu kondisi intelektual dan kondisi emosional.

Pengalaman estetik bukanlah suatu yang mudah muncul, atau mudah diperoleh, kerana untuk itu memerlukan pemusatan dan atau perhatian yang sungguh-sungguh. Terhadap ini masih ada hambatan lain iaitu sifat emosional penghayat. Seseorang penghayat yang merasakan adanya kepuasan setelah menghayati suatu karya, maka orang tersebut dikatakan memperoleh kepuasan estetik. Kepuasan estetik merupakan kombinasi antara sifat subjektif dan kemampuan persepsi secara kompleks. Pada dasarnya pengalaman estetik merupakan hasil daripada satu interaksi antara suatu karya sastera dengan penghayatnya. Interaksi ini tidak akan terjadi tanpa adanya suatu kondisi yang memenuhi persyaratan. Kondisi yang dimaksud adalah kondisi penangkapan atas karya sastera iaitu kondisi intelektual dan kondisi emosional. 

Pengamat yang sedang memahami karya sajian, maka sebenarnya ia harus terlebih dahulu mengenal struktur organisasi atau dasar-dasar dari struktur yang mendasar tentang karya yang akan atau sedang ia hadapi, ertinya apabila seorang akan menghayati karya rupa, maka seseorang harus betul-betul memahami atau mengenal struktur dasar dari sastera, ia harus mengenal erti garis atau goresan; ia harus mengenal shape atau bidang kecil yang dihadirkan, mengenal warna dengan berbagai peranan dan fungsinya, mengenal dimensi ruang, waktu, serta juga mengetahui secara benar cara mengorganisasikan atau mengkomposisikan, ertinya seorang apresiator faham akan sistem pengorganisasian antara lain: harmonis, kontras, gradasi, serta hukum keseimbangan formal atau tidak formal yang dihadirkan oleh sasterawannya, di samping itu juga seorang penghayat harus memahami teknik di dalam menghadirkan unsur-unsur rupa tersebut serta cara mencapai nilai karakterisasi dari unsur yang dihadirkan.

Menghadapi karya sastera, sastera pertunjukan, sastera lukisan dan cabang sastera yang lain, maka seorang penghayat harus dapat menafsirkan struktur organisasi yang disajikan sasterawan lewat lambang-lambang atau simbol kata-kata. Lambang-lambang yang dihadirkan lewat informasi, bukan sekadar menginformasikan kata-kata dalam erti baku, tetapi seorang penghayat harus benar-benar menangkap maksud sasterawan menerusi kata-kata yang mereka komposisikan. Sehingga bukan semata-mata ragam kalimat baku yang diinformasikan tetapi lambang-lambang yang dipesankan lewat kata-kata yang hakiki.

Di sini seorang penghayat harus mampu menafsirkan setiap unsur, setiap karekter yang disampaikan sasterawan. Di sinilah kenapa seseorang dengan cepat memahami karya muzik, dengan cepat memahami karya sastera, kerana memang mereka sering terlibat dalam proses pemahaman lewat karya-karya sajian.

PUSTAKA IQBAL NAZIM © 2017


Selasa, November 14, 2017

Sabtu, November 11, 2017

Bahasa sastera dan kebebasannya


HASYUDA ABADI
hasyuda@gmail.com
SEBAIKNYA membaca karya-karya terbaik A. Samad Said seperti ‘Hujan Pagi’, ‘Sungai Mengalir Lesu’, ‘Daerah Zeni’ atau cerpen-cerpen beliau dalam ‘Tasik Syahdu dan Cerpen-cerpen Lain’. Bacalah juga novel-novel Sasterawan Negara yang lain seperti Shahnon Ahmad, Anwar Ridwan dan Arena Wati. Jika tidak, ikuti tulisan-tulisan SM Zakir, Jasni Matlani, Ruhaini Matdarin atau Azmah Nordin yang masing-masing memilik ciri-ciri tersendiri yang boleh diteladani. Khususnya, bagaimana bahasa memainkan peranannya dalam menggarap karya-karya mereka.

Bahasa bukan suatu isu yang asing dalam sastera. Bahasa adalah alat dalam perhubungan dan juga dalam penulisan karya sastera. Penulisan yang berkesan dan berhati-hati oleh pengarang dengan bahasa baharu yang segar dan indah mampu menarik minat pembaca untuk menikmati keindahan bahasa sekali gus menambahkan pengetahuan bahasa yang baharu.

Justeru, bahasa baku, bahasa pasar dan bahasa cakap serta bahasa daerah secara lisan juga mempunyai nilai keindahan dalam karya sastera. Kebijaksanaan pengarang dalam mengolah gaya bahasa ini akan menjadikan keindahan bahasa menarik dalam karya seperti cerpen dan novel.

Oleh itu, pengarang cerpen dan novel mestilah mempersiapkan diri dengan menggunakan bahasa yang baik dan menarik apabila menggarapkan karya. Bahasa yang hambar dan tawar membuatkan karya tersebut tidak diminati oleh pembaca, walaupun tema dan persoalannya hebat dan besar.

Keindahan bahasa terletak kepada penggunaan gaya bahasa yang akan disajikan kepada pembaca. Bahasa yang baik dan menarik akan mengangkat sesuatu bahasa ke mercu kecemerlangan dan keindahan. Nilai estetik dan keindahan banyak terletak pada bahasa yang disampaikan.

Ada yang pernah bertanya apakah dalam cerpen penulis boleh menyampaikan caranya berbahasa menggunakan bahasa basahan atau bahasa pasar? Saya pernah menegur apabila sebuah karya penulis baharu menggunakan apa yang ditanyakan tadi. Ini saya fikir bukan soal komunikasi yakni apa yang disenangi pembaca dalam mengetengahkan pemikiran dalam karyanya. Karya sastera yang ditulis itu sebenarnya bermatlamatkan pemerkasaan bahasa bukan menghancurkan bahasa yang sedia ada. Sediakan glosari bukan sahaja tertumpu kepada bahasa etnik tempatan bahkan terhadap istilah-istilah yang bukan lumrah dalam penggunaan bahasa kebangsaan.

Sastera memang perlukan kebebasan. Misalnya bebas mengemukakan idea. Bebas menyampaikan pemikiran. Bebas berkreatif. Bebas mengolah mengikut inovasi seseorang pengarang itu sendiri. Bahkan penulis sebenarnya diberikan lesen puitika dalam membina diksi-diksi tertentu dalam puisi. Namun menggunakan bahasa yang celaru bukan kebebasan yang dimaksudkan. Itu tidak termasuk dalam lesen puitika.

Biar bebas mana sekali pun, sesebuah karya perlukan keindahan. Keindahan puitika seseorang boleh membezakan antara satu dengan yang lain, yang matang dan yang tidak. Keindahan yang seimbang bukan sahaja terletak kepada tema, persoalan, watak dan perwatakan, malah bahasa juga memainkan penting dalam menyampaikan mesej dan juga apa yang hendak disampaikan oleh seseorang penulis. Inilah yang tersirat dan tersurat dalam kata-kata yang dikatakan; “Yang molek itu budi, yang indah itu bahasa”. Dengan kata lain, bahasa yang indah berfungsi sebagai alat perhubungan ahli-ahli dalam sesuatu masyarakat dapat menyampaikan maksud dan tujuan masing-masing dengan berkesan dan tepat.

Seperti yang diungkapkan oleh Ninon De Lenclos, “Apa yang indah tidak selalu baik, tetapi apa yang baik selalu indah.” Manakala bagi Sappho, “Sesuatu yang indah itu baik, dan sesiapa yang baik segera menjadi indah juga.” Lantaran itu, kekalkan bahasa yang indah betul, tepat dan baik. (Ammi Masra, 2015)

Berkongsi pandangan, bagi A. Teeuw dalam buku Sastera dan Ilmu Sastera Pengantar Teori Sastera (1995:49) menjelaskan karya sastera dan bahasanya sangat penting diseimbangkan supaya luas tersebar dengan pemakaian bahasa yang khas dan mempunyai nilai keindahan. Menurutnya, bahasa sastera sebagai bahasa yang khusus mempunyai gaya retorik dan stilistik iaitu keistimewaan penggunaan bahasa dengan kebijaksanaan, kepandaian, teknik ilmiah, sistem aturan baharu yang berkembang menjadi seni iaitu ilmu untuk berbicara secara tepat dan berkesan dengan kepandaian menggunakan bahasa dengan baik.

Ilmu gaya bahasa selalu meneliti pemakaian bahasa yang khas atau istimewa yang merupakan ciri khas bagi seorang penulis, memperindah aliran sastera dan lain-lain yang akhirnya menjurus kepada keindahan bahasa dan estetik.

Perlu diingatkan bahawa penulis atau pengarang cerpen dan novel juga mempunyai tanggungjawab intelek yang besar dalam memartabatkan bahasa Melayu sebagai bahasa kebangsaan dan bahasa rasmi di negara ini. Iaitu menimbulkan satu fikiran tertentu yang tinggi dan menarik dalam sesebuah karya sastera. Oleh itu, jika boleh elakkan penggunaan bahasa Melayu bercampur bahasa Inggeris dalam novel bagi mengelakkan pemakaian ini dalam kehidupan seharian kepada pembaca. Tugas dan peranan penulis dan pengarang adalah memberikan hiburan tahap tinggi dan juga berbahasa indah tahap tinggi.

Menurut Saruddin Ahmad (1963) kesusasteraan ialah manifestasi daripada gerakjiwa manusia yang wujud dalam pernyataan bahasa. Pada hakikatnya kesusasteraan atau seni sastera itu ialah bingkisan kata yang dipersembahkan oleh sasterawan sebagai hadiah kepada masyarakat. 
Manakala menurut Simorangkir-Simanjutak (1971), kesusasteraan adalah cermin jiwa getar sukma pengarang. Kesusasteraan harus tumbuh di tengah tengah rakyat oleh rakyat untuk rakyat yang menggambarkan suka duka, harap cipta dan kerjacipta rakyat.

Selain daripada penggunaan bahasa-bahasa yang indah dan tersusun, sastera juga diiringi dengan unsur akaliah. Dalam erti kata lain, seorang pengarang perlu memikirkan perutusan, amanat, atau lantaran idea yang ingin disampaikan atau dikongsi dan direnungi bersama oleh pembaca (Arba’ie et al, 2008). Unsur akaliah ini merupakan langkah pertama yang perlu ditetapkan sebelum terhasilnya sesebuah karya. Dengan perutusan yang ingin disampaikan, seorang pengarang perlu mengolah dan menggabungkan serta melengkapi karyanya itu dengan daya rasa atau sensitiviti mereka.

Untuk itu, seorang pengarang haruslah bersifat sensitif atau peka dan prihatin akan masyarakatnya. Pengamatan penulis akan masyarakatnya dijadikan sumber asas dalam menghasilkan sesebuah karya. Kewujudan pelbagai dayarasa ini akan membangkitkan dan meninggalkan kesan perasaan kepada pembacanya. Saya rasa seperti belas simpati, benci, marah atau geram akan dihubungkaitkan dengan fenomena yang dipaparkan. Karya itu akan lebih bernilai sekiranya apa yang dipaparkan pernah dilalui atau dialami oleh pembaca

Para penulis harus ingat bahawa karya sastera merupakan khazanah intelek yang akan mengharung pelbagai zaman. Dalam zaman-zaman yang lepas kita membaca karya-karya agung yang terus utuh kerana pemaparan bahasa yang mantap dan tertib. Karya sastera perlu terus dibicarakan. Intipatinya yang besar harus digali dan dikaji. Ini tidak dikecualikan bagaiman sesebuah karya besar itu digarap sebegitu rupa.

Persoalannya ialah bagaiamana sebuah karya yang diperkatakan hanya menyebut antara baik dengan tidak lalu menobatkan itulah karya yang terbaik tanpa menyatakan penggalian yang jitu, berdasarkan sukatan-sukatan atau ukurtara-ukurtara yang diyakini? Kita yakin karya-karya kreatif baik novel, cerpen, puisi dan drama mampu menerobos cabaran zaman. Mereka yang gigih berkarya tetapi mengabaikan soal tatabahasa dan bahasa sebagai salah satu jambatan falsafah serta pemikiran perlu membuka minda lebih terbuka. Kita memang menginginkan seorang tokoh sasterawan mencapai tempat yang terbaik suatu hari nanti sebagai Sasterawan Negara. Tidak terlambat setiap penulis menyimpan cita-cita bukan semata-mata meraih gelar dan seumpamanya tetapi memantapkan tulisan mereka menjadi sebuah adikarya yang diterima semua golongan masyarakat.

PUSTAKA IQBAL NAZIM © 2017

Khamis, Oktober 26, 2017

DWIFUNGSI KARYA SASTERA

Oleh Hasyuda Abadi
hasyuda@gmail.com
KEMAJUAN sesebuah negara tidak hanya berasaskan ukuran pembangunan jasmaniah, sains dan teknologi tetapi perlu mengambil kira aspek-aspek kemanusiaan dan kerohanian. Kesusasteraan mempunyai perkaitan dengan cabang ilmu lain seperti agama, falsafah, budaya, politik, perubatan, undang-undang dan sebagainya. Teks sastera penuh dimensi dan ia memberi banyak ruang untuk diteroka. Selain itu ilmu kesusasteraan merupakan disiplin ilmu yang berkait rapat dengan aspek emosi dan nilai hidup manusia. Sastera bukan sekadar memberi maklumat tentang keintelektualan tetapi melengkapkannya dengan dunia emosi dan nilai kepada manusia. Kehadiran aspek nilai menjadi penting dalam pemupukan dan pembentukan kualiti insan. Sayang sekali tidak ramai yang melihat hal ini.

Karya sastera tidak dapat lari daripada dua fungsi utama. Pertama karya sastera bertujuan untuk menghiburkan dan keduanya untuk memberi pengajaran, pesanan atau peringatan. Keperluan untuk menghiburkan melahirkan karya sastera yang membawa keseronokan yang indah. Hiburan terhasil dari keindahan kata-kata yang diungkapkan, irama atau rentak yang yang tesusun, kemampuan karya sastera untuk membelai emosi pembaca atau pendengar, unsur kelucuan dan sebagainya. Kepentingan fungsi hiburan menjadikan karya sastera seperti cerita penglipurlara diterima oleh masyarakat sebagai karya yang diminati dan digilai masyakarakat pada suatu ketika.

Pantun misalnya merupakan karya sastera yang cukup popular kerana keupayaannya membawa keindahan yang menghiburkan. Saya teringat pantun-pantun lama berbunyi seperti berikut :

Orang Daik memacu kuda,
Kuda dipacu deras sekali;
Buat baik berpada-pada,
Buat jahat jangan sekali.

Berburu di padang datar,
Dapat rusa belang kaki;
Berburu kepalang ajar,
Bagai bunga kembang tak jadi.

Kualiti menghiburkan dalam pantun tersebut cukup banyak. Rentak dan rima yang bersukat membentuk irama dalam pantun. Malah pantun pula mempunyai struktur bacaan yang tersendiri yang menghasilkan keindahan dalam pembacaan. Selain itu, pantun disampaikan pula dalam pelbagai variasi yang semakin menambahkan fungsi menghiburkan seperti dijadikan lirik dikir barat di Kelantan, lirik lagu popular, lirik berunsur patriotik dan sebagainya. Kemampuan pantun untuk bertahan sebagai karya sastera yang popular menunjukkan bahawa unsur hiburan ini amat banyak dalam pantun.

Fungsi kedua karya sastera adalah untuk memberi pengajaran, nasihat atau pesanan kepada masyarakat. Fungsi ini juga menjadikan karya sastera sebagai suatu bahan yang dapat membawa kesedaran kepada masyarakat, mengubah pemikiran, serta memberi ruang untuk masyarakat menyerap nilai-nilai moral yang dibawa dalam karya sastera. Cerita Sang Kancil dengan Buaya misalnya cukup terkenal bukan semata-mata kerana ceritanya menghiburkan tetapi keupayaannya untuk memasyarakatkan nilai, unsur moral dan pengajaran yang berguna kepada masyarakat. Bagi masyarakat teknologi cerita rakyat ini sudah tentu membosankan dan ketinggalan zaman. Namun tanpa kita sedari kita dibesarkan dalam asuhan moral yang dibawa dari cerita tersebut. Tanpa sedar kita diserapkan dengan kepentingan nilai tolong-menolong dan kita pula diperingatkan betapa buruknya sikap tidak mengenang budi.

Sama seperti pantun kedua di atas, pemilihan kata ‘berburu’ dan digandingkan dengan ‘berguru’ memberi mesej yang penting pada kita. Dalam ungkapan yang ringkas, pantun membawa tafsiran makna yang mendalam. Kerja berburu sama sukarnya dengan berguru. Ia memerlukan kemahiran dan ketekunan. Peringatan yang cuba dibawa dalam pantun iaitu pentingnya ilmu tetapi jangan salah berguru.

Untuk menjadikan karya sastera dapat diterima dengan berkesan sudah pastinya  dwifungsi sastera itu harus berterusan dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Meski pun karya sastera itu sendiri sudah lengkap dengan unsur hiburan dan pengajarannya, bagaimana ia dapat disampaikan kepada khalayak? Ia pastinya menjadi satu cabaran kepada guru-guru bahasa Melayu, misalnya. Jika karya sastera tidak sampai kepada pelajar dalam bentuk yang menghiburkan nilai sastera sebenar tidak sampai kepada pelajar. Keindahan sastera tidak dapat diselami oleh pelajar. Akhirnya pelajar terasa sastera hanya membebankan mereka dengan teks yang banyak bukan menghiburkan mereka. Kepalang ajar kadangkala lebih banyak membunuh minat dan kecenderungan pelajar. Begitu lah seterusnya dalam masyarakat yang begitu liat menerima sastera dalam budaya hidup mereka. Perlu kesungguhan serta iltizam yang mendalam.

Dalam konteks pembelajaran, penggunaan bahan sastera bermatlamat ke arah membina perkembangan bahasa. Interaksi pelajar atau sesiapa juga dengan bahan sastera memberi ruang kepada mereka mengasah kemahiran membaca dan memahami. Pengajaran tentang sesebuah teks sastera melibatkan pengajaran kemahiran membentuk makna bukan sahaja tentang teks yang dibaca tetapi juga makna yang dibawa oleh teks tersebut dan hubungannya dengan pengetahuan dan pengalaman seseorang. Hal ini juga bermaksud bahawa makna atau maksud yang dibawa oleh sesebuah teks sastera yang dibaca, bukan sahaja didapati dalam teks, tetapi juga diperoleh melalui interaksi dengan teks. Konteks hubungan pembaca dengan teks dapat diperkayakan dengan penguasaan laras bahasa dalam karya kreatif. Mereka dapat mengenalpasti gaya bahasa dalam karya sastera, menganalisis gaya bahasa dan unsur bunyi dalam karya sastera. Mereka juga dapat menguasai aspek penggunaan gaya bahasa dan unsur bunyi dalam penulisan kreatif.

Kemahiran berbahasa diperluaskan melalui interaksi dengan keindahan bahasa yang terpancar dalam karya sastera. Keindahan bahasa yang menjadi intisari sesebuah karya sastera berupaya mendekatkan pembaca dengan keragaman dan kekayaan bahasa sastera yang indah dan menarik. Matlamat pengunaan bahan sastera adalah untuk membentuk kepekaan seseorang terhadap variasi bahasa yang wujud dalam teks sastera. Melalui penghayatan karya sastera kita dapat mempelajari kekayaan bahasa masyarakatnya dan dapat meneladaninya untuk memperoleh kekuatan bahasa. Selain itu, kemahiran berbahasa dilengkapkan melalui kemampuan kita menghasilkan penulisan kreatif. Penghasilan prosa atau puisi secara terancang, kemas, serta mematuhi pengunaan bahasa yang tepat, indah, dan menarik menjadi sesuatu yang ingin disampaikannya itu terbina lebih indah dan menarik lagi.

Karya sastera tidak terlepas daripada pancaran nilai yang terakam di dalamnya. Nilai-nilai yang dipaparkan bersifat nilai kesejagatan yang membawa kelangsungan kepada umat manusia. Manusia dilukiskan untuk membayangkan nilai-nilai murni supaya manusia terus hidup dengan lebih sempurna. Mendekati karya sastera bermakna kita dapat merenung, berfikir, dan membuat refleksi tentang situasi dirinya dalam kehidupan ini. Kesejahteraan dan kemakmuran manusia yang dipancarkan dalam karya sastera dapat menyemai naluri keinsanan dalam jiwa.

Fungsi mendidik yang dibawa dalam karya sastera bertujuan untuk pembinaan sahsiah seseorang. Sastera dapat membina manusia yang berfikir, berpegang pada etika, manusia yang halus pertimbangannya, bersikap adil dan saksama, serta dapat membayangkan perasaan orang lain. Karya sastera memberi ruang kepada pelajar untuk merasa prihatin terhadap keperitan dan kedukaaan yang dialami orang lain. Mereka menjadi peka kepada sesama manusia dan persekitarannya. Karya sastera mengajak manusia untuk membina sebuah masyarakat atau manusia yang baik.

Sastera yang tumbuh dalam jiwa dan bahasa sesuatu bangsa akan menjadi alat, bukti, dan unsur jati diri bangsa berkenaan. Sastera akan menjadi sebahagian daripada wajah dan jiwa bangsa. Karya-karya sastera tradisional seperti pantun, syair, seloka, dan gurindam serta karya-karya prosa tradisional seperti sastera rakyat, mitos, legenda, dan epik menjadi khazanah yang amat dibanggakan. Mengenali teks sastera bermakna memberi ruang kepada generasi muda memahami jati diri mereka. Sastera menjadi warisan kerana di dalamnya terkumpul alatan komunikasi, fikiran, konsep, persepsi, emosi, muzik, dan seni bangsa itu (Muhammad Haji Salleh: 2004). Bahkan daripada bahan-bahan sastera ini berupaya untuk memberikan pendedahan berkaitan unsur budaya, pemikiran, sikap, dan nilai yang diamalkan dalam masyarakat.


PUSTAKA IQBAL NAZIM © 2017